Amalan yang tidak disyariatkan seputar Ied

Posted: April 5, 2011 in Ibnu Muchtar
Tags: , ,
Seorang muslim yang berqudwah kepada Al-quran dan sunnah RasulNya akan senantiasa menyadari bahwa hakikat penciptaannya kedunia tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT sebagai penciptanya. Karena itu setiap desahan nafas dan amal perbuatannya tidak lain merupakan perwujudan amal ibadahnya kepada Allah SWT. Dan inti dari ibadah itu adalah ketaatan kepada Allah dan rasulNya. Melaksanakan apa yang tidak diperintahkan oleh Allah dan rasulNya bukanlah sesuatu yang dinamakan ibadah
Bagi kaum muslimin, Rasulullah SAW sudah menyunahkan dua hari raya yang layak untuk dirayakan. Ketika Rasulullah saw tiba hijrah di Madinah, penduduk setempat masih merayakan dua hari raya yang biasa mereka rayakan di masa jahiliyah, maka Rasulullah bertanya ”Dua hari apakah ini?” mereka menjawab ”dua hari yang pada zaman jahiliyah kami berpsta padanya”. Maka Rasulullah SAW bersabda ”sungguh Allah telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik yaitu hari raya Adha dan hari raya Fitri.
Namun pada pelaksanaannya kedua hari raya ini, kami menemukan beberapa amalan yang dianggap ibadah namun belum kami temukan contoh (perintah) Rasulullah SAW ketika merayakannya. Bagaimanapun juga bagi seorang muslim itu yang dinamakan ibadah adalah wujud dari pengamalan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW atau perbuatan yang pernah dilakukannya, karena perintah dan perbuatan Rasulullah SAW itu tidak lain merupakan wujud pengaplikasian Alquran yang sudah diwahyukan kepadanya. Beberapa perbuatan itu antara lain :
1. Takbiran Semalam suntuk pada Malam Hari Raya Idul Fitri
Sudah merupakan hal yang membudaya dikalangan beberapa orang dinegeri kita untuk melakukan takbiran pada malam iedul fitri. Mlam lebaran itu terasa hidup dan hangat dengan kumandang takbir dan tahlil dari mesjid, surau, dan mushalla. Bahkan ada yang melakukannya dengan cara berkelompok sambil melintasi jalan-jalan tertentu. Sebagian dari mereka meyakini apa yang mereka lakukan itu adalah ibadah. Namun tidak sedikit pula yang melakukannya hanya karena senang dan ramai.
Perbuatan ini merupakan penafsiran dari keumuman surat Al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi :
”Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur”.
Ditafsirkan demikian karena ditemukan adanya hadis sebagai berikut:
”Barang siapa bangkit (bangun) pada malam idul fitri dan malam idul Adha, tidak akan mati hatinya di kala hati orang menjadi mati”. (HR. At-Thabrani)
Berdasarkan penelitian kami, hadis ini adalah hadis maudlu (palsu). Artinya hadis ini dibuat tidak atas nama Rasulullah SAW, karena di dalam sanad hadis ini terdapat seorang rawi bernama Umar bin harun As-Tsaqafi Al-bakhi. Di bawah ini adalah pendapat para ulama mengenai Umar bin harun As-Tsaqafi:
Ali bin Husain bin Al-Jundi Ar-razi mengatakan ”saya mendengar yahya bin main mengatakan ”Umar bin harun itu kadzdzab (tukang dusta), ia datang ke Makkah, Ja’far bin Muhammad telah wafat. Ia menceritakan menerima hadits dari yang sudah wafat itu.
Abdurrahman bin Abi hatim telah berkata ”aku bertanya kepada bapakku tentangnya”, beliau menjawab ”dia dijarah oleh Ibnul Mubarak maka hilanglah (tidak berarti) hadis-hadisnya”
Abu Thalib mengatakan ”saya mendengar Ahmad bin hanbal berkata ”Umar bin harun saya tidak meriwayatkan apapun darinya…maka aku telah meninggalkan haditsnya..”
Ali Bin Husain bin Hubban (putranya Ibnu Hibban) mengatakan ”saya mendapatkan pada kitab bapak saya dengan tulisan tangannya” Abu Zakaria mengatakan ”Umar bin harun Al bakhi )buruk) haditsnya bukan apa-apa…Aku telah membakar semua hadits-haditsnya tiada yang tersisa kecuali satu kalimat yang ada pada sampul kitan akupun telah membakar semuanya. Dan masih banyak lagi komentar pra ahli yan menjarahnya. Tahdzibul kamal fi asmail rijal, XXI:525, 526, 527 dan 528
Dengan demikian ayat ini tidak tepat untuk dijadikan alasan adanya bertakbiran malam ied, bahkan tidak ada kaitannya dengan takbiran malam hari raya semalam suntuk apalagi dengan keliling dengan berbagai tetabuhan yang meniblukan kegaduhan dan kebisingan. Karena hadits yang menerangkan tentang bangun (tidak tidur) semalam suntuk sangat lemah bahkan palsu. Sampai saat ini kami belum menemukan alasan lain yang lebih kuat selain alasan yang telah dipaparkan diatas.
2. Membagi Zakat Fitrah pada malam Hari Raya Ied atau Sebelumnya
Beberapa jami’ (pengumpul) zakat kami dapati sering kali membagikan zakat fitrah kepada para mustahiq zakat pada malam hari raya, bahkan ada yang sehari atau dua hari sebelum hari raya. Selain karena alasan yang bersifat teknis yakni , merasa sangat repot jika dibagikan pada waktu subuh sebelum berangkat salat ied, mereka juga berpegang kepada hadits yang shahih di bawah ini :
”Dan adalah Ibnu Umar ra menyerahkan zakat fitrah kepada yang diberi tugas untuk menerimanya (jami’ zakat) dan adalah mereka menyerahkannya sehari atau dua hari sebelum hari raya” (Al-Bukhari)
Padahal maksud Ibnu Umar ini bukan membagikan zakat kepada mustahiq melainkan menitipkan zakat fitrahnya kepada jami’ zakat. Hal ini dikuatkan sendiri oleh imam al-Bukhari sebagai periwayatan hadits tersebut dengan perkataannya dalam Ash Shagani, bahwa mereka memberikan zakat fitrah sebelum hari raya itu lil jam’i (untuk dikumpulkan di amil zakat) la lil fuqara (bukan untuk dibagikan kepada faqir miskin. (Fathul bari, III:293)
Dalam riwayat Ibnu Huzaimah dan riwayat Imam malik, Ibnu Umar menerangkan, bahwa penyerahan zakat fitrah sebelum hari raya sehari atau dua hari itu kepada ”aladzina yajma’u indahum” yaitu kepada orang yang padanya zakat tersebut dikumpulkan. Abu Hurairah berkata ”Rasulullah SAW telah mewakilkan kepada saya untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat Fitrah)” Misykat:185
Membagikan zakat fitrah pada sehari sebelum atau malam idul fitri berdasarkan dalil tidak jelas tidak tepat. Karena itu orang yang memberikan zakat itu sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya maka akan menjadi shadaqah biasa. Adapun alasan teknis seperti sempitnya wakti pembagian zakat bila berpatokan kepada hadits shahih tentu saja tidak bisa dijadikan dalil. Karena bagi sebagian orang, slaat subuh itu sangat berat dilakukan karena waktu tidur mereka agak terganggu, meskipun demikian kewajiban salat subuh itu tidak menjadi mubah karena alasan tersebut.
3. Salat Sunah Qabliyah dan ba’diyah pada salat ied
Di dalam kitab Majmauz zawaid, kami menemukan keterangan mengenai adanya salat qabliah atau pun ba’diah pada salat ied. Keterangan-keterangan ini kami ringkas sebagai berikut :
Ibnu Sirin dan Qatadah menerangkan bahwa Ibnu mas’ud melakukan salat empat raka’at atau delapan raka’at sebelum salat ied tetapi beliau tidak salat sebelumnya. Hadis ini sanadnya mursal dan tentu saja dha’if, Majmauz Zawaid, II:205
Dan diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Ayub bahwa ia melihat Anas bin malik salat pada hari ied empat raka’at sebelum imam keluar menuju mushala.
Imam Al-Haisami berkomentar tentang riwayat ini, bahwa riwayat ini rawi-rawinya rawi-rawi yang shahih. Majmauz Zawaid, II:205
Akan tetapi komentar beliau ini tidak tepat dan diluruska oleh Husain Salim Asad di dalam Tahqiq Musnad Abu ya’la Al-Mushili pada Juz VII halaman 203 dengan kata-kata, munqoti, Ayub tidak bertemu dengan Anas
Diriwayatkan oleh Al-Bazaar dari Al-Walid bin sari’ dan oleh Ibnu hars bahwa ketika Amirul mukminin Ali bin Abi thalib ditanya oleh suatu kaum tentang hal beliau tidak jawab. Tetapi ketika beliau melihat beberapa orang telah melakukan salat dan beliau ditanya tentang hal itu beliau menjawab ”yang aku harapkan dari kalian akan bertanya tentang sunnah rasul, sesungguhnya Nabi SAW tidak salat sebelum maupun sesudahnya, tetapi siapa saja yang hendak melakukannya silahkan dan yang tidak akan melakukan pun silahkan. Pernahkan kalian melihat aku menghalangi hamba Allah yang melakukan salat, tentu saja aku akan menjadi seorang yang menghalangi hamba Allah apabila ia salat
Hadis inipun daif, karena ada rawi yang tidak dikenal sama sekali. Demikian dikatakan oleh Al-Bazaar. (majmauz Zawaid, II:206)
Sedangkan pengamalan salat ied berdasarkan hadis shahih adalah sebagaimana amaliyah Rasulullah SAW sebagai berikut:
”dari Ibnu Abbas ia mengatakan ”Nabi SAW pada hari ied dan beliau salat dua rakaat yang beliau tidak salat sebelum ataupun sesudahnya.” (HR. Al jamaah)
Dengan demikian tidak ada keterangan yang shahih yang menganjurkan salat sunat sebelum atau sesudah salat ied.
4. Pelaksanaan Shalat Ied di Dalam Mesjid
Dalam hadis yang shahih, Rasulullah Saw memerintahkan kepada seluruh para sahabatnya dan siapapun agar keluar melaksanakan salat ied di mushala. Bahkan perempuan-perempuan pingitan atau yang sedang haid pun diperintahkan agar menuju mushala. Dan mushala yang dimaksud pada saat itu adalah sebuah tanah lapang yang ada dipinggiran kota Madinah sebelah Timur.
Sampai saat ini kami belum menemukan hadits shahih yang menerangkan bahwa rasulullah SAW dengan para sahabatnya pernah salat ied di mesjid. Hanya saja ada hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW pernah salat ied di mesjid karena pada saat itu hujan, hadits itu sebagai berikut:
”dari Abu Huraerah ra sesungguhnya Nabi SAW pernah ditimpa hujan pada hari ied maka Nabi SAW salat mengimami mereka salat ied tersebut dimesjid.” (HR Abu Daud, Ibnu majah dan Al-hakim
Hadits ini daif (lemah sekali) Adz-Dzahabi mengatakan ”hadits ini munkar” Al Hafidz Ibnu hajar Al-Asqalani mengatakan ”Pada sanadnya terdapat kelemahan.”Fiqh sunah, I:268). Dengan demikian hadis ini tidak dapat diamalkan walaupun keadaan ied itu turun hujan.
5. Menasehati Hewan Qurban sebelum disembelih
Ada cara-cara dan upacara tertentu yang biasa dilakukan oleh sebagian muslim sebelum hewan qurban itu disembelih, antara lain hewan itu diusap-usap dan dinasehati agar bersabar, disertakan pula sewadah air, bunga-bunga rampai, sisir, cermin, dan kain kapas. Padahal cara-cara dan upacara seperti ini jelas-jelas merupakan pengaruh dari agama kultur. Rasulullah SAW memberikan contoh ketika menyembelih qurban sebagai berikut:
Dari Aisyah ra sesungguhnya Nabi SAW memerintah membawa kibas yang bertanduk yang kakinya hitam dan perutnya hitam dan sekeliling matanya hitam, kemudian didatangkan kepadanya untuk disembelih. Lalu Nabi bersabda kepada Aisyah ”Ya Aisyah bawakanlah pisau, kemudian ia berkata, ”asahlah pisau itu dengan batu”. Lalu Aisyah mengerjakannya, kemudian Rasul SAW mengambil pisau itu dan membaringkan kambing itu kemudia menyembelihnya kemudian berkata ”dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga muhammad dan umat Muhammad, lalu beliau menyembelihnya”. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)
Dengan demikian menyembelih qurban dengan menyertakan sewadah air, bunga rampai, cermin, sisir, kain kafan lalu diusap-usap dan dinasehati agar bersabar itu adalah bid’ah.
6. Membaca wajahtu sebelum menyembelih hewan qurban
Dalam penyembelihan binatang qurban, masih ada di antara kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa ketika binatang qurban itu hendak disembelih, mesti dihadapkan kea rah kiblat membaca “wajahtu wajhiya lilladzi fataras samawati wal ardi…wa ana awalu muslimin”
Tampaknya keyakinan ini berlandaskan hadits sebagai berikut :
”dari jabir bin Abdullah berqurban dengan dua kibas pada hari ied, Ketika beliau menghadapkan keduanya (untuk disembelih) beliau membaca ” ini wajahtu wajhiya lilladzi fataras samawati wal ardi hanidan wama ana minal musyrikin. Ina shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ’alamin, laa syarikalaahu wa bidzalika umirtu wa ana awalul muslimin, allahumma minka wa laka ’an muhamadin wa umatihi” (HR Ahmad, al-fathur rabbani XIV: 62; Abu Daud, Sunan Abu daud II:86; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah III:528; Al-Baihaqi,as-sunanul kubra IX:267.)
Walaupun diriwayatkan oleh empat mukharij (pencatat hadits), namun semuanya melalui rawi yang daif yaitu muhammad bin Ishaq dan Abu Ayyas Az-Zuraqi
Keterangan para ulama tentang Muhammad bin Ishaq bin Yasar bin Khayar:
  • Yahya bin Main berkata ”menurutku Muhammad bin Ishaq seorang yang sangat lemah, tidak kuat. Imam An-Nasai berkata ”Ia rawi yang tidak kuat”
  • Abu Hatim berkata ”Muhammad bin Ishaq rawi yang daif” Ma’mar mengatakan ” ayahku berkata ’jangan engkau lihat Muhammad bin Ishaq, ia seorang pendusta” Malik bin Anas mengatakan Muhammad bin Ishaq seorang pendusta, Ibnu Hajar berkata ”ia rawi yang shaduq, tapi suka memalsu hadits” (Tahdzibul Kamal XXIV:422-429)
Keterangan para ulama mengenai Abu Ayyas:
  • Ibnu hajar berkata ”ia rawi yang tidak dikenal” (Al-Fathur rabbani XIV:62)
Adapun bacaan penyembelihan yang disunahkan oleh Rasulullah berdasarkan hadits yang shahih adalah ”Bismillahi Allahu Akbar”
Dari Anas ia berkata ”Rasulullah SAW menyembelih dua kibas yang putih dan bertanduk dan beliau membaca ’bismillahi Allahu akbar” (HR. Muslim)
7. Patungan seekor kambing oleh lebih dari satu orang
Berqurban dengan cara patungan hanya berlaku untuk sapi dan unta, berdasarkan hadits sebagai berikut :
”dari Ibnu Abbas ia berkata Kami bersama Rasulullah SAW dalam perjalanan maka tiba waktu iedul Adha, lalu kami patungan untuk membeli seekor sapi tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang”. (HR. At-Tirmidzi)
Adapun seekor kambing untuk beberapa orang dengan cara patungan tidak terdapat ketrangan. Karena itu bila pada satu sekolah atau instansi menyelenggarakan qurban dengan cara patungan untuk seekor kambing maka qurban itu tidak syah.
8. Membagikan daging qurban yang sudah dipasak/kornet
Qurban itu termasuk nusuq (ibadah dalam bentuk sembelihan) yang terikat dengan berbagai ketentuan: janis binatang, cara dan waktu penyembelihan termasuk status dagingnya. Karena itu perlu kehati-hatian dan tanggung jawab pada setiap jami’ atau panitia qurban yang dipercaya menerima amanat. Salah satu amanat yang harus ditunaikan itu menyangkut pembagian daging qurban. Sehubungan itu rasulullah SAW telah menetapkan aturan sebagaimnaa dinyatakan dalam hadits Ali berikut ini :
”Dari Ali Bin Abu Thalib ia berkata ’Rasulullah SAW telah memerintahkan kepadaku untuk mengurus unta (qurbannya) serta menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan pakaiannya; dan jangan sedikitpun memberikan daging kurban kepada orang yang menyembelihnya (sebagai upah menyembelih) Ali barkata ’kami suka memberinya upah dari kami sendiri” (Muttafaqun alaih, nailul Authar V:220)
Keterangan diatas menunjukan bahwa al-ashlu (yang pokok) pada perintah nabi di atas adalah membagikan daging kurban apa adanya (dalam keadaan mentah). Dan kami tidak mendapatkan keterangan bahwa pada zaman Nabi SAW daging kurban dibagikan dalam bentukkeadaan masak. Karena Itu hendaklah daging kurban itu dibagikan mentahnya, sebagaimana aqiqah, karena keduanya termasuk nusuq. Tetapi apabila telah beralih status dari daging kurban menjadi hak milik seseorang, terserah pemiliknya apakah untuk dimakan, dikornetkan atau dimanfaatkan kepada yang lainnya termasuk dijual.
Adapun yang dijadikan alasan oleh mereka bahwa daging qurban boleh dibagikan dalam keadaan masak adalah keterangan sebagai berikut:
”Dari Abdullah bin waqid ia berkata ”Rasulullah SAW melarang makan daging kurban stelah tiga hari…Nereka berkata ”Anda (sebelumnya) melarang daging kurban dimaka setelah tiga hari (mengapa sekarang dibolehkan)”. Maka beliau bersabda ”aku melarang tiada lain karena mengingat banyaknya kaum duafa (lebih banyak yang membutuhkan. Mali sekarang kamu boleh makan, menyimpan dan menyedekahkannya”. (HR. Muslim)
Berdasarkan hdits ini mereka berpendapat bahwa daging qurban boleh di awetkan, tanpa kecuali hukum cara mengawetkannya, apakah didendeng, diabon ataukah dikornetkan. (Lihat Brosur Rumah Zakat DSUQ)
Kalau kita perhatikan hadits di atas dengan cermat, ternyata tidak ada hubungannya dengan membolehkan membagikan daging qurban dalam keadaan masak. Sebab kata-kata kulu (makanlah) dan iddakhiru (awetkanlah) berkaitan dengan hak qurbani (yang qurban). Selebih dari itu sudah menjadi bagian wa tashaddaqu (sadaqahkanlah), yaitu hak orang lain (si penerima).
Itu sebabnya mengapa kata-kata kulu (makanlah), wad dakhiru (awetkanlah) disebut secara terpisah dengan kata wa tashadaqu (sadaqahkanlah, hal itu untuk menunjukan hak masing-masing. Karena itu hadits tersebut memberikan kewenangan kepada qurbanu untuk mengelola daging qurban yang menjadi haknya, tanpa punya kewenangan untuk ikut campur dalam pengelolaan daging yang disadaqahkannya. Selanjutnya terserah mereka penerima shadaqah apakah untuk dimakan (disate,dikornetkan) atau diberikan kepada yang lain. Termasuk dijual.
Dengan demikian membagikan daging kurban dalam keadaan masak, baik dengan cara dikornetkan, diabonkan, maupaun dengan cara yang lainnya telah melangar hak orang lain (penerima qurban).

Oleh karena itu panitia yang mengkornetkan daging kurban sebagai amanat umat, adalah khianat dan tidak bertanggung jawab. Apalagi kalau menjadi kepentingannya adalah laba atau keuntungan dari kelebihan harga binatang qurban dan dari proses kornetisasi. Yang lebih ironis lagi, akibat cara diatas banyak daging kurban yang baru sampai kepada penerima yang berhak setelah lebih dari lima bulan. Astaghfirullahal ’adzim

Oleh : Ibnu Muchtar dan Ryzqah Yamin putra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s