Niat Dalam Beribadah

Posted: April 16, 2011 in Ibnu Muchtar

Niat Dalam Beribadah

Niat secara bahasa artinya kehendak, rencana dan tujuan atas sesuatu. Dalam istilah para ulama, niat dimaksudkan untuk dua pengertian : Pertama, Niat dalam pengertian kehendak hati yang membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain, seperti membedakan shalat wajib dzuhur dari shalat wajib Ashar atau yang membedakan shaum Ramadhan dengan shaum Nadzar. Kedua, niyat dalam pengertian sesuatu yang menjadi dasar dorongan dan harapan atau motivasi suatu amal perbuatan. Yaitu apakah sesuatu pekerjaan itu dilaksanakan atas dasar mengharap keridhaan dan pahala Allah SWT atau karena mengharap pujian dari manusia.

Dalam Alquran disebutkan kandungan dari niyat itu, yaitu ”keinginan, harapan, dan kehendak.” Iraadah, ibtighaa, dan rajaa. Seperti dalam Firman Allah :

”Barangsiapa yang menginginkan keuntungan (pahala) akhirat, kami akan tambahkan keuntungannya, dan barang siapa yang menginginkan keuntungan dunia saja, Kami akan berikan sebagian darinya dan baginya tidak ada bagian keuntungan di akhirat sedikit pun”. (Q.S As-Syura : 20)
”Dan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka dengan mengharap keridhaan Allah…” (Q.S Al-Baqarah : 265)

Read the rest of this entry »

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 21-24 (Pokok Hukum Musrik dan Cara Menjauhinya)

Oleh K.H. Usman Shalehuddin.
Membahas hukum dan ciri-ciri orang musyrik tidak bisa dilepaskan dari masalah tauhid. Dalam Al-Quran dari awal sampai akhir dijelaskan dengan terperinci. Hal-hal pokok yang perlu diketahui dan dipahami syirik (yang harus dimulai dari pembahasan tauhid) terkandungan dalam Surat Al-Baqarah ayat 21-24.

“Wahai manusia! Ibadahilah Tuhanmu (Rabbmu) yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa;” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 21)

Siapakah Rabb itu? Pertama, yang telah menciptakan (membentuk) kamu. Maka kita diciptakan seperti ini tentunya untuk tujuan tertentu. Kedua, yang telah menciptakan (membentuk)orang-orang yang sebelum kamu. Orang-orang sebelum kita salah satunya yang terdekat yaitu ibu bapak kita. Dalam kalimat terakhir ayat ke-21 di atas (agar kamu bertakwa) mengandung arti manusia menjadi orang yang bertakwa merupakan tujuan dibentuk atau diciptakannya manusia itu sendiri.

Read the rest of this entry »

KEPUTUSAN DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Penyerta Muktamar XIV
Di PC Persis Soreang,      7  Agustus  2010 M/26 Sya’ban  1431 H

Tentang:

“HUKUM MENGGUNAKAN KARTU KREDIT DALAM PANDANGAN ISLAM”

بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:
MENGINGAT: 
1. Firman Allah :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. البقرة : 275.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Q.s. Al-Baqarah : 275.

Delapan Fatwa Aktual Persis

Posted: April 15, 2011 in Umum

TERHADAP berbagai persoalan umat yang aktual, PP Persis meresponsnya dengan menggelar Sidang Dewan Hisbah di Pesantren Persis Lembang, baru-baru ini. Sebelum sidang, peserta memperoleh pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah, K.H. Akhyar Syuhada.

Sejumlah pakar yang membahas persoalan tersebut yakni Dr. H.M. Abdurrahman, M.A (Sekretaris Dewan Hisbah), Drs. K.H. Shiddiq Amien, M.B.A., Drs. K.H. Uus M. Ruhiat, K.H. Usman Shalehuddin, Drs. M. Romli, Drs. Taufiq Rahman Azhar, K.H. Rahmat Najib, Drs. H. Wawan Shofwan Shalehuddin, dan Drs. K.H. Entang Muchtar, Z.A.

Setelah melalui pembahasan yang berlangsung hangat, Sidang Dewan Hisbah VII Persis mengeluarkan fatwa sebagai berikut:

Membakar mayat hukumnya haram, kecuali bila tidak ada cara atau upaya lain.

  1. Aborsi korban perkosaan hukumnya haram walaupun usia kehamilan itu belum 40 hari. Artinya, aborsi atau pengakhiran kehamilan bukan atas dasar indikasi medis hukumnya haram sejak terjadinya konsepsi (pembuahan). Aborsi yang dibolehkan adalah aborsi dasar indikasi medis.
  2. Berdiri menghormati pemimpin dibolehkan, selama berdirinya itu atas dasar ikrimah (penghormatan) dan bukan kultus individu atau mengakibatkan kesombongan.
  3. Berkaitan dengan persoalan salat gaib bagi korban bencana, Dewan Hisbah membagi salat jenazah pada tiga, yaitu salat jenazah dilakukan sebelum jenazahnya dikuburkan, salat jenazah sesudah jenasahnya dikuburkan (salat di atas kuburannya), dan salat jenazah bagi yang meninggal di wilayah yang diyakini tidak ada yang menyalatinya termasuk korban bencana alam (salat gaib).
  4. Memindahkan penyakit kepada binatang atau makhluk lain adalah mustahil dan memercayainya adalah syirik.
  5. Plasenta untuk bahan kosmetika, Dewan Hisbah memutuskan bahwa (1) Kosmetika dan obat-obatan yang terbuat dari plasenta manusia hukumnya haram; (2) Kosmetika dan obat-obatan yang terbuat dari plasenta binatang yang haram hukumnya haram; dan (3) Kosmetika dan obat-obatan yang terbuat dari plasenta binatang yang halal hukumnya halal.
  6. Ruqyah dan penyembuhan kerasukan jin, Dewan Hisbah memutuskan bahwa:Ruqyah dalam arti doa dan melindungkan diri dengan kalimat yang manshush (diucapkan oleh Nabi Muhammad saw.) atau susunan sendiri disyariatkan (dicontohkan oleh Rasulullah saw.).Ruqyah dalam arti jimat dan jampi-jampi sekalipun menggunakan ayat Alquran adalah syirik (berdosa besar); Tidak ada kesurupan jin; Keyakinan dan pengobatan kesurupan jin adalah dusta dan syirik.
  7. Salat Idulfitri atau Iduladha di atas tanah lapang adalah lebih utama (afdhaliyah).
  8. Salat dengan dua bahasa atau bacaan salat ditambah dengan terjemahannya adalah tidak sah

** Disinyalir Rawan Penipuan dan Syirik

SEMARANG- Pengobatan alternatif dengan cara memindahkan penyakit ke binatang kambing belakangan oleh sebagian kalangan ramai dipersoalkan keabsahannya. Sejumlah data yang dikumpulkan dari media massa online (internet), paling banyak mengecam pengobatan nyeleneh ini adalah kalangan agamis yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Bahkan, pengobatan tak lazim ini dinyatakan haram karena tidak bisa dibenarkan dan hanya menyakiti binatang.
Pernyataan tersebut diperkuat tidak adanya ayat dan hadits yang mengajarkan pengobatan dengan cara memindahkan penyakit ke binatang. Paling dikhawatirkan kalangan ini, adalah cara penyembuhan ini melibatkan ilmu sihir, bahkan sumber dikumpulkan menyebutkan, jika dalam praktiknya ada yang menggunakan serum yang disuntikkan kedalam tubuh kambing agar jerohan kambing yang masih hidup itu lebam kebiru-biruan dan hancur.
Alih-alihnya, keadaan jerohan kambing yang sudah tidak sehat itu diklaim bahwa penyakit si pasien telah dipindah kedalam kambing tersebut. “Duh, kasihan kan kambingnya. Saya sangat prihatin jika pengobatan seperti ini diterapkan. Saya tidak menampik jika pengobatan semacam ini rawan sekali penipuan,” ujar Riadi warga Banyumanik kepada wartawan, kemarin.
Penipuan yang dimaksud Riadi, diantaranya, dikhawatirkan ada yang dengan modus pasien diminta membayar mahar sebesar harga kambing dan keperluan ritual lainnya yang amat tinggi, namun sejatinya kambing yang katanya untuk memindah penyakit itu oleh pelaku pengobatan hanya disewa dari pemilik kambing.

Read the rest of this entry »